Medimorphosis
atau Mediamorfosis adalah transformasi media komunikasi, yang biasanya
ditimbulkan akibat hubungan timbal balik yang rumit antara berbagai kebutuhan
yang dirasakan, tekanan persaingan dan politik, serta berbagai inovasi dan
teknologi.[1] Menurut Roger Fidler (2003), Mediamorfosis bukanlah sekadar teori
sebagai cara berpikir yang terpadu tentang evolusi teknologi media komunikasi.
Mediamorfosis
mendorong kita untuk memahami semua bentuk sebagai bagian dari sebuah system
yang saling terkait, dan mencatat berbagai kesamaan dan hubungan yang ada
antara bentuk bentuk yang muncul di masa lalu, masa sekarang, dan yang sedang
dalam proses kemunculannya. Media baru tidak akan muncul begitu lama. Dan
ketika bentuk bentuk media komunikasi yang baru muncul, bentuk bentuk yang
terdahulu biasanya tidak mati – terus berkembang dan beradaptasi.
Salah satu
teori mediamorphosis yang dikembangkan adalah gagasan Roger Fidler (1997) yang
menjelaskan tentang hubungan media lama dan media baru.
Roger Fidler
( 1997) mempresentasikan gagasan mengenai mediamorphosis yang bisa membantu
kita memahami jenis-jenis perubahan di
dalam media. Ia mendefinisikan
mediamorphosis sebagai “ the transformation of communication media, usually
brought about by the complex interplay of perceived needs, competitive and
political pressures, and social and technological innovations “ (hal 22,33).
Intisari dari mediamorphosis adalah gagasan bahwa media bersifat “complex,
adaptive systems”. Itulah sebabnya, media, seperti halnya sistem yang lain,
menanggapi tekanan eksternal dengan proses spontan pengaturan kembali dirinya
sendiri. Dan seperti halnya makhuk
hidup, media ber-evolusi untuk mencari peluang supaya bisa bertahan hidup di
dalam lingkungan yang berubah. Fidler berpendapat bahwa media baru tidaklah
berkembang secara spontan dan independent — mereka bergerak secara bertahap
dalam metamorphosis dari media lama.
Pengembangan
tentang Mediamorfosis juga dilanjutkan dengan adanya beberapa penelitian yang
akan saya berikan penjelasan beberapa diantaranya berikut :
Penelitian dalam HyperText
Satu
penelitian (McDonald dan Stevenson, 1998) meneliti efek dari beberapa struktur
hypertext yang berbeda dalam pembelajaran di kalangan para user. Satu pesan
yang pada dasarnya sama disiapkan dalam struktur hirarki, di mana di tiap
halaman dihubungkan (link) dengan yang sebelumnya dan yang sesudahnya; struktur
yang non-linier, di mana halamannya dihubungkan ke dalam jaringan yang
kompleks; dan struktur gabungan, yang memiliki struktur hirarki dasar tapi juga
mencakup link-link lainnya sehingga memungkinkan user melompat keluar dari
hirarki. Peneliti memprediksi bahwa teks yang non-linier adalah yang paling
mengakibatkan disorientasi bagi user dan teks dengan struktur gabungan akan
memberi kesemptan browsing yang efisien — lebih baik daripada model struktur
hirarki yang kaku. Para responden dalam peneitian tersebut diminta untuk
menggunakan dokumen hypertext tersebut
dan menjawab sepuluh pertanyaan.
Peneliti mencatat waktu yang diperlukan untuk menemukan jawaban dan
jumlah halaman yang dibuka untuk mencari setiap jawaban tersebut. Mereka
menyimpulkan bahwa user lebih menyukai pilihan teks yang sifatnya non-linier
hypertext dan bahwa teks gabungan paling
banyak memberikan user kebebasan serta
tidak membatasi dalam browsing.
Penelitian dalam multimedia
Penelitian ini
berfokus pada bagaiman peran siswa menggunakan multimedia interaktif? Satu
penelitian pernah dilakukan memfokuskan pada bagaimana siswa menggunakan
program instruksional multimedia mata pelajaran kimia ( Jones dan Berger,
1995). Satu paket program disajikan kepada para siswa dengan pokok pertanyaan
dan peta konsep, termasuk teks, foto,video, animasi , dan simulasi
eksperimental. Hasil menunjukkan bermacam pendekatan yang berbeda dipakai oleh
para siswa. Satu siswa bergerak dari pertanyaan menuju jawaban dengan 104
events, dimana satu events di sini sama
dengan satu tindakan seperti gerakan ke
kartu berikutnya, gerakan ke peta konsep, atau membuka sumber media. Siswa
lainnya yang menghabiskan waktu yang sama dengan serangkaian gerakan maju dan
mundur antara pertanyaan dan isi kartu melakukan 585 events. Sedangkan siswa
yang ketiga juga bergerak maju dan mundur antara pertanyaan dan isi kartu
tetapi menggunakan lebih banyak media seperti video.
Kesimpulan
media baru
maupun konvensional dapat saling melengkapi dan dapat lebih bermanfaat untuk
kita Meskipun adanya media baru, adanya sebuah konsep keseimbangan itu akan
membantu media konvensional yang juga perlu dikembangkan.
Media
elektronik baru memungkinkan terjadinya perubahan besar di dalam masyarakat.
Peneliti baru mengeksplorasi beberapa saja terkait dengan efek positif dan
negatif dari berbagai macam bentuk cyber communication yang sedang
berkembang dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam masyarakat
saat ini.
Daftar pustaka :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar